KULINTANG – MAN Temanggung
Bedah buku merupakan kegiatan berdiskusi bersama untuk mengulas, menganalisis secara mendalam, mengetahui kekurangan dan kelebihan buku, serta melihat tujuan penulisan dalam menerbitkan buku. Maka dari itu, untuk menambah wawasan dalam berdiskusi dan memahami isi buku secara mendalam, KULINTANG diundang untuk ikut serta dalam acara bedah buku Gangsingan Imam dan Ulah Bocah Guci Pecah yang bertempatan di Perpustakaan Kabupaten Temanggung, tepatnya di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Temanggung. Minggu, [25/10/2026]
Acara diawali dengan pembukaan oleh Joko Prasetyo, S.Pd., selaku moderator Dinas Perpustakaan Kabupaten Temanggung. Beliau memperkenalkan para pembedah buku beserta prestasi mereka. Hadir empat narasumber, yaitu Wiwik Hartati, S.Pd., selaku Ketua Satu Pena Temanggung, Latifa Khairani HS, S.I.Pust., selaku Ketua PD IPD Kab. Temanggung, Ulul Azmi Umaroh, S.Pd., sebagai guru MTs Mentosari Kaloran, dan Roso Titi Sarkoro sebagai dwibahawa Jawa dan Indonesia.
Buku Gangsingan Imam karya Ibu Wiwik Hartati, S.Pd. Buku ini menceritakan tentang seorang anak bernama Imam. Di zaman era modern, hampir tiap anak permainannya adalah gadget, namun orang tua ini tidak mampu membelikan gadget, membuat Imam diejek karena ketinggalan zaman. Saat itu juga, Imam terpikirkan dulu pernah diajari membuat gangsing oleh almarhum bapaknya. Dengan bantuan Pak Kasim, Imam pun bisa membuat gangsing dari limbah bambu.
“Jangan pernah sekali saja kita untuk membully siapa pun dalam keadaan apa pun dan suasana apa pun,” ucap beliau dengan harapan bahwa di zaman ini kita tidak harus sama dalam bersenang-senang dan harus bisa saling menghargai satu sama lain.
Beliau juga menjelaskan tiga poin utama dalam bukunya. Yang pertama, buku ini juga ada bahasa ibu atau bahasa Jawa dengan tujuan untuk melestarikan bahasa yang kita dengar pertama kali oleh ibu. Yang kedua, tentang permainan tradisional gangsing, di zaman ini permainan dengan gadget sudah tergantikan. Gangsing adalah salah satu permainan tradisional. Dan yang ketiga, tempat latar tempat yang digunakan dalam cerita, yaitu di Temanggung, lebih tepatnya di Pasar Papringan Temanggung. Pesan moral yang kita dapatkan dari cerita ini adalah bahwa kita harus saling menghargai satu sama lain, saling memaafkan, dan berani berbeda.
Tujuan dibuatnya buku untuk melestarikan budaya lama dari generasi ke generasi dan menjaga sejarah lama. Karena di zaman sekarang, Gen Z tumbuh di era digital yang akan membuat punah budaya tradisional.
Sesi berikutnya membahas buku Ulah Bocah Guci Pecah karya Ibu Ulul Azmi Umaroh, S.Pd. Buku ini menceritakan seorang anak bernama Danu yang sedang bermain bola di taman. Selang beberapa waktu, hujan turun, membuat Danu tidak bisa main di taman. Karena masih anak-anak, Danu pun bermain bola di dalam ruang tahu. Alhasil, Danu tidak sengaja menendang bola yang mengarah ke guci dan akhirnya guci itu pecah. Saat itu, Danu dilanda kecemasan, apakah harus jujur atau berbohong. Dengan kepercayaan yang kuat, Danu pun memiliki untuk jujur dan ibunya pun memaafkannya. Beliau menyampaikan pesan moral dalam cerita ini bahwa kita harus bisa berani jujur walau sepahit apa pun, harus bisa bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, dan tidak lupa meminta maaf.
“Jadi, saya menemukan tantangan baru kalau biasanya nulis novel itu memikirkan plot, harus panjang, diksi-diksi yang dipilih gitukan, untuk cerita anak ini ternyata kita sebagai siswa yang sudah 35 tahun, saya harus kembali menjadi anak-anak lagi karena tulisan itu harus kita ungkapkan juga dengan hari. Kalau kita menulis tidak menggunakan hati maka tidak akan sampai ke hati,” ucap beliau, mengungkapkan bahwa menulis sebuah cerita juga harus menggunakan hati dan menghayati agar para pembaca seperti berada di dalam cerita.
Buku ini dipenuhi ilustrasi gambar berwarna dengan tambahan bahasa Jawa agar anak-anak saat membaca juga mengenal bahasa ibu atau bahasa Jawa. Dalam pembuatan buku ini juga bertujuan saat usia dini diajarkan untuk jujur dan bertanggung jawab.
Melalui kegiatan ini, para pembaca diharapkan dapat semakin bersemangat meningkatkan minat baca, termotivasi menciptakan karya, serta memperluas wawasan dan ilmu pengetahuan baru.