KULINTANG — MAN TEMANGGUNG

 

Dalam rangka mempererat tali silaturahmi sekaligus memfasilitasi antusiasme para pelajar, pengurus Kulintang (Komunitas Literasi Perpustakaan Gibraltar MAN Temanggung) sukses menyelenggarakan kegiatan nonton bareng yang akrab dikenal sebagai Gibraltar Cinema. Acara yang berlangsung di ruang multimedia Perpustakaan Gibraltar ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan untuk melepas penat dari rutinitas belajar, tetapi juga menjadi ruang diskusi dan interaksi positif bagi seluruh peserta yang hadir. Rabu, [4/11/2026].

 

Sejak sore hari, tepatnya setelah KBM, ruang multimedia sudah dipadati oleh pengunjung dari kalangan murid untuk menyaksikan tayangan film yang berjudul “Sekawan Limo 2, Gunung Klawih.” Terlihat para penonton mulai antusias ketika putaran film ditampilkan di layar monitor dengan volume yang cukup keras serta lampu temaram yang membuat suasana semakin khidmat.

 

Film dengan genre horor komedi ini berhasil membuat para penonton tampak hanyut dalam cerita. Berbagai reaksi mulai dari ketakutan, rasa haru, hingga gelak tawa yang pecah di dalam ruangan, menciptakan pengalaman emosional yang khas dan hanya bisa dinikmati ketika menonton bersama.

 

Cerita ini dimulai setelah tiga tahun pendakian Gunung Madyopuro. Persahabatan kelima sekawan, yakni Bagas, Lenni, Andrew, Dicky, dan Juna, semakin erat. Konflik pecah ketika mereka menghadiri acara ulang tahun Angle (anak Andrew). Di momen tersebut, mereka menyadari bahwa terdapat masalah besar dan ancaman tumbal pesugihan yang mengincar garis keturunannya akibat ulah dari ayah Andrew.

 

Demi menyelamatkan keluarga Andrew dan memutus garis kutukan, mereka harus pergi ke Gunung Klawih yang terkenal angker untuk mencari solusi. Namun, ketegangan semakin mencekam ketika Juna terpisah dari teman-temannya dan tersesat di alam gaib. Mereka pun harus berpacu dengan waktu demi melawan kekuatan supranatural untuk menyelamatkan Juna dan keluarga Andrew.

 

Di tengah-tengah tekanan para makhluk gaib, mereka bertemu dengan seorang penduduk asli Gunung Klawih yang bernama Lim. Di sana mereka mendapat jawaban yang sangat ditunggu, bukan dengan kekuatan sakti, tetapi sebuah jawaban yang mungkin selama ini mereka salah mengartikannya.

 

“Hidup ini berjalan begitu cepat. Karena tidak sabar ingin sukses, banyak orang mengambil jalan pintas. Padahal mereka tidak sadar, jalan pintas itu justru akan membebani mereka seumur hidup. Maka nikmatilah prosesmu, karena hidup ini hanyalah perlombaan,” ucap Lim.

 

Ketika mereka mendengarkan ungkapan tersebut, sebuah kesadaran perlahan muncul di benak mereka, bahwa tujuan hidup seseorang harus didasarkan dengan kesabaran dan keikhlasan dalam berjuang. Jika langkah tak sanggup berjalan lagi, maka berhentilah sejenak, bukan dengan cara mencari jalan pintas. Dan di akhir perbincangan, Lim menegaskan lagi bahwa pertolongan yang sesungguhnya bukan dari bantuan sihir, melainkan dari Sang Maha Pencipta. “Percayalah pada doa dan harapan yang kalian panjatkan, alhasil hidup kalian akan sejahtera, damai, dan bahagia,” ucapnya.

 

Dalam tayangan film ini terdapat berbagai pelajaran yang dapat diambil. Bahwasanya meraih kesuksesan, kekayaan, atau menyelesaikan masalah secara instan seperti melalui jalur pesugihan atau klenik sering kali berujung pada bencana dan harga yang sangat mahal. Film ini juga menyoroti hubungan persahabatan yang kompak akan tetap bertahan dan saling menguatkan bahkan dalam situasi yang amat rumit. Para penonton yang hadir diharapkan mampu memetik makna yang tertuang dalam tayangan film untuk mewujudkan impian dan menyelesaikan masalah dengan cara-cara yang tidak gegabah, melainkan dengan kesabaran dalam berjuang dan memohon perlindungan kepada yang seharusnya.