MAN Temanggung – KULINTANG

Pelatihan dan pembinaan PMR adalah kegiatan tahunan PMR WIRA Unit MAN Temanggung yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa(i) tentang kepalangmerahan dan medis dasar, jalannya pelatihan ini dibimbing oleh pemateri dari PMI Temanggung dan Puskesmas Dharma Rini. Kegiatan dilaksanakan pada hari Senin dan Selasa [02-03/02/2026].

Kegiatan pada hari Senin dimulai setelah upacara bendera, tepatnya pada pukul 08.30 WIB. Sebelum masuk sesi pemberian materi, siswa(i) menyanyikan lagu Indonesia Raya, dilanjut dengan Mars Madrasah dan Mars PMI terlebih dahulu. Kemudian disambung dengan sesi sambutan-sambutan.

Sambutan pertama disampaikan oleh Alifian selaku ketua PMR WIRA MAN Temanggung. Alifian menekankan bahwa pentingnya pelatihan ini karena akan menjadi bekal bagi siswa(i), terlebih untuk anggota baru yang nantinya akan menjadi penerus gerakan PMR di MAN Temanggung. Selanjutnya, sambutan kedua disampaikan oleh wakil kepala bidang kesiswaan MAN Temanggung.

“Menjadi orang baik itu mudah, cukup diam. Tapi menjadi orang bermanfaat itu tidak mudah, kalian menjadi anggota PMR untuk bermanfaat bagi orang lain,” ujar Jakfar Sodiq dalam sambutannya.

Hal tersebut menegaskan bahwa menjadi pribadi yang baik tidak cukup hanya dengan bersikap pasif atau tidak berbuat kesalahan, melainkan diperlukan tindakan nyata agar keberadaan seseorang memberi manfaat bagi orang lain. Melalui pernyataannya, Jakfar Sodiq mendorong anggota PMR untuk aktif berperan, peduli, dan siap membantu sesama sebagai wujud pengabdian dan nilai kemanusiaan.

Rangkaian kegiatan selanjutnya diawali dengan pembacaan doa oleh Ayu, kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Bapak Fuad dan Bapak Slamet selaku perwakilan dari PMI Temanggung. Materi yang disampaikan membahas sejarah kepalangmerahan, yang bermula dari peristiwa Perang Solferino pada tahun 1859, ketika Henry Dunant menyaksikan banyaknya korban perang yang tidak mendapatkan pertolongan medis. Peristiwa tersebut melahirkan gagasan kemanusiaan yang kemudian berkembang menjadi Gerakan Palang Merah Internasional. Selanjutnya, pemateri juga mengulas perkembangan gerakan kepalangmerahan di Indonesia, mulai dari berdirinya Palang Merah Indonesia (PMI) hingga perannya dalam kegiatan sosial, kemanusiaan, dan penanggulangan bencana di berbagai daerah.

Materi selanjutnya membahas tentang pertolongan pertama, di mana siswa(i) diberikan pemahaman mengenai langkah-langkah dasar dalam memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan. Tidak hanya secara teori, siswa(i) juga dibekali dengan praktik langsung agar mampu menangani kondisi darurat secara tepat. Kegiatan praktik pertolongan pertama tersebut dilaksanakan di gedung serbaguna, sehingga siswa dapat menerapkan materi yang telah disampaikan secara langsung dan lebih mendalam. Kegiatan pada hari Senin diakhiri dengan sesi foto bersama.

Memasuki hari kedua, tepatnya Selasa pukul 08.30. Kegiatan dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Madrasah, dan Mars Hidup Sehat. Yang kemudian langsung disambung dengan pemberian materi oleh Bapak Supriyanto, Ibu Pangestuti dan Ibu Enwar selaku perwakilan dari Puskesmas Dharma Rini.

Materi pertama membahas mengenai kesehatan reproduksi pada remaja yang disampaikan oleh Bapak Supriyanto. Dalam pemaparannya, beliau menyoroti pentingnya pemahaman remaja terhadap kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan berbagai permasalahan kesehatan. Bapak Supriyanto juga menyampaikan keprihatinannya terhadap tingginya angka remaja yang terjangkit penyakit menular seksual, yang berdasarkan data mencapai sekitar 111 juta kasus di seluruh dunia, sehingga diperlukan edukasi dan kesadaran sejak dini.

Materi kedua membahas tentang P3LP (Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis) yang disampaikan oleh Ibu Enwar. Dalam penyampaiannya, dijelaskan bahwa kesehatan mental merupakan aspek penting yang perlu mendapat perhatian, terutama pada remaja. Pemateri juga menyampaikan data bahwa 1 dari 8 anak di dunia mengalami gangguan jiwa, sehingga diperlukan pemahaman serta kepedulian bersama agar peserta mampu memberikan dukungan awal yang tepat bagi individu yang mengalami luka psikologis.

“Orang dengan gangguan jiwa tak perlu masukan, mereka cuma mau mengeluarkan unek-unek dia,” terang Enwar.

Pernyataan tersebut menekankan bahwa dalam menangani orang dengan gangguan jiwa, hal terpenting bukanlah memberikan nasihat atau solusi secara langsung, melainkan menjadi pendengar yang baik. Menurut Enwar, memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan perasaan dan unek-unek yang terpendam dapat membantu meringankan beban psikologis serta menjadi langkah awal dalam proses pemulihan emosional.

Materi ketiga membahas tentang lingkungan sekolah sehat yang disampaikan oleh Ibu Pangestuti. Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan pentingnya menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, aman, dan nyaman. Ibu Pangestuti juga menyinggung masih adanya makanan atau jajanan yang dijual di lingkungan sekolah yang kurang sehat, sehingga diperlukan kesadaran bersama untuk memilih dan menyediakan makanan yang lebih bergizi demi mendukung kesehatan peserta didik.

Di penghujung acara, Alifian dan Aulia selaku perwakilan peserta pelatihan menyampaikan kesan dan pesannya kepada pihak Puskesmas Dharma Rini selama menjadi pemateri. Kegiatan pada hari Selasa selesai pada pukul 11.30 WIB, sebelum meninggalkan ruang pertemuan, siswa(i) sekali lagi melakukan foto bersama demi kenangan yang akan dikenang hingga masa tua datang. .

Diharapkan melalui kegiatan pelatihan dan bimbingan PMR ini, siswa(i) anggota PMR mampu mempraktikkan ilmu yang telah diperoleh secara nyata, sehingga dapat memberikan pertolongan kepada korban yang membutuhkan serta menghasilkan kontribusi yang bermanfaat bagi sesama dan lingkungan sekitar.