MAN TEMANGGUNG—KULINTANG

 

Semangat literasi dan pelestarian budaya lokal menjadi sorotan dalam peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-2 Satupena Kabupaten Temanggung yang dirangkai dengan peluncuran buku cerita rakyat Ki Panjang Emas. Kegiatan ini menjadi momentum bagi para pegiat literasi untuk memperkuat tradisi menulis sekaligus memperkenalkan kembali kekayaan cerita rakyat kepada masyarakat. Yang berlokasi di SMPN6 Temanggung, Hari Minggu, [18/10/2026].

 

Rangkaian acara diawali dengan berbagai penampilan seni sembari menunggu kedatangan tamu undangan. Setelah itu, kegiatan resmi dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”, dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Temanggung, M. Soleh Mubin, S.Ag., M.H.

 

Ketua Satupena Kabupaten Temanggung, Wiwik Hartati, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya literasi sebagai bagian dari perkembangan masyarakat. Literasi tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga menjadi sarana untuk memperluas wawasan, membangun daya pikir kritis, serta mengembangkan kepekaan terhadap persoalan di lingkungan sekitar.

 

Menurutnya, budaya literasi perlu terus ditumbuhkan melalui keterlibatan berbagai pihak, mulai dari penulis, pelajar, komunitas, hingga pemerintah. Dengan demikian, kegiatan literasi tidak berhenti pada penyelenggaraan acara atau penerbitan buku, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan yang hidup di tengah masyarakat.

 

“Kota Temanggung tidak hanya dikenal karena kekayaan alam dan tembakaunya saja, tapi juga literasinya,” ungkap Wiwik Hartati.

 

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa Temanggung memiliki potensi yang lebih luas daripada sekadar kekayaan alam dan komoditas unggulannya. Tradisi menulis, karya sastra, serta dokumentasi cerita rakyat juga dapat menjadi bagian penting dari identitas daerah yang patut dijaga dan dikembangkan.

 

Memasuki rangkaian acara berikutnya, para tamu undangan disuguhkan pertunjukan tari kontemporer oleh Titian Community. Penampilan tersebut menghadirkan unsur seni sebagai bagian dari perayaan, sekaligus menunjukkan bahwa ekspresi kebudayaan dapat berjalan berdampingan dengan gerakan literasi.

 

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bupati Temanggung, Agus Setyawan, S.E. Dalam kesempatan tersebut, ia menyampaikan harapan agar masyarakat Temanggung terus mengembangkan kemampuan untuk berinovasi dan berkarya. Potensi daerah, menurut pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, perlu diimbangi dengan kreativitas masyarakat agar dapat melahirkan gagasan dan karya yang bermanfaat.

 

Dukungan terhadap kegiatan literasi menjadi penting karena perkembangan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia. Melalui kebiasaan membaca, menulis, dan berdiskusi, masyarakat memiliki kesempatan untuk memperluas pengetahuan sekaligus menghasilkan karya yang mencerminkan karakter dan kekayaan daerahnya.

 

Suasana peringatan kemudian dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur atas perjalanan Satupena Kabupaten Temanggung yang telah memasuki usia dua tahun. Momentum tersebut juga menjadi harapan agar organisasi ini terus berkembang, memperluas kontribusi bagi masyarakat, serta melahirkan lebih banyak penulis dan karya yang bermutu.

 

Puncak acara ditandai dengan peluncuran dan peresmian buku cerita rakyat Ki Panjang Emas. Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam peringatan HUT ke-2 Satupena Kabupaten Temanggung. Peresmian buku yang ditandatangani oleh Bupati Temanggung itu sekaligus menandai hadirnya sebuah karya yang diharapkan dapat memperkenalkan dan menjaga keberadaan cerita rakyat sebagai bagian dari warisan budaya.

 

Cerita rakyat memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya tersimpan ingatan kolektif, nilai-nilai sosial, serta gambaran mengenai cara suatu masyarakat memahami kehidupan dan lingkungannya. Oleh karena itu, mendokumentasikan cerita rakyat ke dalam bentuk buku merupakan salah satu upaya agar kisah-kisah tersebut tidak hanya bertahan melalui penuturan lisan, tetapi juga dapat dibaca dan dipelajari oleh generasi berikutnya.

 

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan bedah buku Ki Panjang Emas yang menghadirkan Roso Titi Sarkoro sebagai narasumber dan Edo Sandiago sebagai moderator. Sesi ini menjadi ruang untuk membahas isi buku sekaligus memperdalam pemahaman mengenai cerita rakyat yang diangkat. Melalui diskusi, peserta diharapkan tidak hanya mengenal kisah yang disajikan, tetapi juga mampu melihat nilai budaya dan relevansinya dengan kehidupan masyarakat masa kini.

 

Bedah buku juga menjadi pengingat bahwa sebuah karya tidak berhenti ketika selesai ditulis atau diterbitkan. Karya perlu dibaca, didiskusikan, ditafsirkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat agar gagasan di dalamnya dapat terus hidup. Dengan cara tersebut, buku dapat menjadi jembatan antara penulis, pembaca, dan kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.

 

Peringatan HUT ke-2 Satupena Kabupaten Temanggung dan peluncuran buku Ki Panjang Emas pun menjadi momentum untuk kembali menegaskan pentingnya literasi dalam kehidupan masyarakat. Di tengah perubahan zaman, menjaga tradisi membaca dan menulis sekaligus melestarikan cerita rakyat merupakan dua upaya yang saling melengkapi.

 

Harapannya, Satupena Kabupaten Temanggung dapat terus menjadi ruang bagi para penulis dan pegiat literasi untuk bertukar gagasan, mengembangkan kreativitas, serta menghasilkan karya yang bermanfaat. Lebih dari itu, Ki Panjang Emas diharapkan dapat menjadi salah satu langkah untuk menjaga kekayaan cerita rakyat Temanggung agar tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi mendatang.

 

Sebab, kekayaan sebuah daerah tidak hanya tersimpan dalam bentang alam dan hasil buminya, tetapi juga dalam cerita, pemikiran, dan karya yang diwariskan oleh masyarakatnya. yang diwariskan oleh masyarakatnya.