MAN TEMANGGUNG – KULINTANG
Universitas Islam Indonesia (UII) merupakan salah satu perguruan tinggi Islam di Indonesia yang didirikan pada 8 Juli 1945 dan berlokasi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. UII didirikan sebagai lembaga pendidikan tinggi yang berperan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dengan berlandaskan nilai-nilai keislaman. Dalam kunjungan literasi ini, peserta berkesempatan mengenal lebih dekat lingkungan kampus, fasilitas pendidikan, serta Perpustakaan UII yang menjadi salah satu pusat sumber ilmu dan informasi. Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk memperluas wawasan peserta mengenai dunia perguruan tinggi sekaligus menumbuhkan minat terhadap literasi dan pentingnya ilmu pengetahuan pada Kamis, [06/08/026]
Kegiatan kunjungan literasi ke Universitas Islam Indonesia (UII) menjadi pengalaman yang memberikan wawasan baru mengenai dunia pendidikan tinggi, khususnya pentingnya ilmu pengetahuan, nilai adab, dan budaya literasi. Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan lingkungan kampus, tetapi juga mendapatkan motivasi untuk terus terbuka terhadap ilmu dan memperluas wawasan.
Salah satu pesan yang disampaikan oleh K.H Ali Masyhar, S.Ag., M.Si., dalam pembukaan dan sambutan kegiatan tersebut adalah, “Jika ingin merubah orang menjadi lebih baik, kuncinya hanya dua, yaitu ilmu dan adab.” Pesan tersebut menjadi salah satu hal penting yang dapat dipetik dari kegiatan ini. Ilmu memberikan pengetahuan dan kemampuan untuk memahami berbagai persoalan, sedangkan adab menjadi dasar dalam menggunakan ilmu tersebut secara baik dan bertanggung jawab. Beliau juga berharap agar para peserta selalu terbuka terhadap ilmu dan tidak berhenti belajar.
Dalam kunjungan tersebut juga disampaikan bahwa kuliah dapat memperluas jangkauan masa depan dan wawasan. Pendidikan tinggi bukan hanya mengenai memperoleh gelar, tetapi juga menjadi kesempatan untuk bertemu dengan berbagai pemikiran, mempelajari ilmu yang lebih luas, serta mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di masa depan. Lingkungan perguruan tinggi dapat mendorong seseorang untuk berpikir lebih kritis dan memiliki pandangan yang lebih luas terhadap dunia.
Salah satu tujuan utama dalam kunjungan literasi ini adalah Direktorat Perpustakaan UII yang berada di Gedung Moh. Hatta, Kampus Terpadu UII, Jalan Kaliurang Km 14,5, Sleman, Yogyakarta. Perpustakaan ini menjadi salah satu fasilitas penting dalam menunjang kegiatan belajar, penelitian, dan pengembangan pengetahuan.
Dalam kegiatan kunjungan, peserta diperkenalkan dengan berbagai ruang dan koleksi perpustakaan. Berdasarkan denah resmi perpustakaan, koleksi disusun berdasarkan klasifikasi tertentu sehingga pengunjung dapat mencari buku sesuai bidang yang dibutuhkan. Perpustakaan juga memiliki koleksi referensi, jurnal, koleksi cadangan, serta koleksi dari berbagai sumber hibah.
Hal yang menarik adalah keberagaman koleksi yang tersedia. Selain buku-buku umum, terdapat koleksi fiksi, seni, buku-buku klasik, serta koleksi dalam berbagai bahasa. Perpustakaan UII juga menyimpan koleksi langka, termasuk terbitan lama dan koleksi berbahasa Arab. Terdapat pula koleksi hibah yang menjadi bagian dari kekayaan koleksi perpustakaan.
Perpustakaan UII juga menerapkan sistem open access, sehingga pemustaka dapat mencari dan mengambil koleksi secara langsung dari rak. Selain koleksi fisik, perpustakaan menyediakan akses terhadap berbagai sumber informasi digital seperti e-book, e-journal, dan sumber daya akademik lainnya. Perpustakaan UII telah mendapatkan akreditasi A dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sejak 2014.
Salah satu hal paling unik dari kunjungan ini adalah keberadaan Candi Kimpulan yang berada di lingkungan Perpustakaan UII. Candi tersebut ditemukan secara tidak sengaja pada 11 Desember 2009 ketika dilakukan penggalian untuk pembangunan perpustakaan. Candi ini sebelumnya terkubur di dalam tanah dan diperkirakan berasal dari sekitar abad ke-9 hingga ke-10, pada masa Mataram Kuno. Kemudian, Candi Kimpulan dilestarikan dengan membangun perpustakaan dalam bentuk melingkar yang memiliki filosofi memeluk atau menggambarkan keterbukaan Islam dalam kehidupan yang berdampingan dengan keberagaman.
Candi Kimpulan juga dikenal dengan nama Candi Pustakasala. Nama tersebut memiliki hubungan erat dengan keberadaan perpustakaan karena “pustakasala” dapat dimaknai sebagai perpustakaan dalam bahasa Sanskerta. Di sekitar kawasan tersebut juga terdapat berbagai artefak hasil ekskavasi Candi Kimpulan.
Keberadaan candi di lingkungan perpustakaan menjadikan tempat ini tidak hanya sebagai pusat membaca dan mencari informasi, tetapi juga ruang untuk mengenal sejarah dan kebudayaan. Hal tersebut membuat kunjungan literasi terasa lebih menarik karena peserta dapat memperoleh pengetahuan melalui buku sekaligus melalui peninggalan sejarah yang berada secara langsung di lingkungan kampus.
Gedung perpustakaan memiliki beberapa tingkat dan menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung kegiatan belajar. Di dalamnya terdapat ruang koleksi, ruang baca, ruang audiovisual, ruang konferensi, e-library, serta fasilitas pendukung lainnya. Setiap lantai juga dilengkapi fasilitas yang menunjang kenyamanan pengunjung.
Peserta juga diperkenalkan dengan berbagai jenis koleksi, mulai dari buku fiksi dan seni hingga buku-buku klasik serta koleksi dalam bahasa asing. Keberagaman tersebut menunjukkan bahwa perpustakaan tidak hanya menyediakan bahan bacaan untuk kebutuhan akademik, tetapi juga menjadi tempat untuk memperluas minat dan wawasan pembacanya.
Kegiatan literasi di perpustakaan juga mengajarkan bahwa kemampuan membaca tidak cukup hanya dengan memahami isi buku. Literasi mencakup kemampuan menemukan informasi, menilai informasi, serta memanfaatkannya secara tepat. Perpustakaan UII sendiri menyelenggarakan kegiatan literasi informasi untuk membantu mahasiswa mengakses, mengevaluasi, dan memanfaatkan sumber informasi secara efektif.
Kunjungan ke Universitas Islam Indonesia memberikan pengalaman yang tidak hanya berkaitan dengan perpustakaan, tetapi juga pendidikan, sejarah, dan pengembangan wawasan. Setelah memperoleh pengetahuan mengenai pentingnya ilmu, adab, serta kemampuan mencari dan mengolah informasi, kegiatan literasi kemudian dilanjutkan dengan mengunjungi tempat yang menghadirkan sejarah secara lebih konkret. Dari lingkungan perguruan tinggi, peserta melanjutkan pembelajaran ke Diorama Arsip Jogja untuk mengenal perjalanan sejarah Yogyakarta melalui arsip, diorama, dan berbagai informasi yang disajikan di dalamnya.
Kemudian Kulintang melanjutkan kegiatan dengan studi literasi di Diorama Arsip Jogja untuk mempelajari sejarah Yogyakarta dan berbagai hal yang terdapat di dalamnya. Kegiatan ini dilakukan sebagai bagian dari pembelajaran di luar kelas dengan mengunjungi langsung tempat yang menyimpan informasi sejarah. Melalui kunjungan tersebut, peserta dapat mengenal perjalanan Yogyakarta sejak masa Panembahan Senopati sekaligus melihat berbagai peristiwa sejarah yang ditampilkan dalam bentuk diorama.
Diorama Arsip Jogja memiliki 18 ruangan yang menyajikan berbagai gambaran mengenai perjalanan sejarah Yogyakarta. Setiap ruangan menghadirkan diorama dan informasi yang berkaitan dengan perkembangan Yogyakarta dari masa ke masa. Penyajian tersebut membuat peserta dapat memperoleh pengalaman belajar yang lebih konkret karena tidak hanya membaca materi, tetapi juga melihat gambaran peristiwa sejarah melalui replika yang tersedia.
Selama kegiatan berlangsung, peserta diwajibkan menaati aturan yang berlaku di Diorama Arsip Jogja. Pengunjung dilarang membawa makanan, minuman, dan barang-barang lain yang tidak diperbolehkan. Selain itu, pengunjung juga dilarang menyentuh atau bersandar pada dinding serta menyentuh segala replika yang ada di dalam ruangan.
Melalui studi literasi di Diorama Arsip Jogja, peserta dapat memahami bahwa literasi tidak terbatas pada kegiatan membaca buku, tetapi juga dapat dilakukan dengan mengamati, memahami, dan menggali informasi dari peninggalan serta sumber sejarah. Dengan demikian, rangkaian kunjungan ke UII dan Diorama Arsip Jogja memberikan pengalaman belajar yang saling melengkapi, mulai dari mengenal dunia pendidikan tinggi dan budaya literasi hingga memahami sejarah Yogyakarta secara langsung.