KULINTANG—MAN Temanggung
KULINTANG menggelar kegiatan JEJAK; Jelajah Edukasi, Jejak pengetahuan. Tujuan kegiatan atau trip JEJAK ini sendiri yakni untuk memperdalam pengetahuan para anggota KULINTANG dengan cara menjelajahi area sekitar dan belajar secara non formal tentang pengetahuan, terutama Sejarah. Kegiatan ini sendiri dipandu oleh Ucok yang berasal dari Sejarahtmg Walkingtour. Kegiatan ini diadakan pada (12/04/2026)
Sejarah yang akan dibahas pada JEJAK kali ini ialah sejarah transportasi kereta di Temanggung, siapa sangka kota dengan komoditas Tembakau ini memiliki kereta, bahkan stasiun didalamnya. Para peserta kegiatan berseru semangat saat mendengarkan penjelasan tentang asal usul adanya stasiun di temanggung.
Stasiun Temanggung sendiri terletak di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Banyuurip, Temanggung. Saat ini digunakan sebagai tempat bersejarah serta ruang untuk latihan karate, ciri khas bangunan ala zaman Belanda masih ada hingga saat ini, dapat dikatakan jika infrastruktur nya sama dengan Lawang Sewu yang ada di Yogyakarta. Karena kedua tempat itu merupakan naungan NIS enn yakni Swasta Belanda dimasa lalu.
“Stasiun Temanggung sendiri bukan stasiun utama, melainkan stasiun sekunder dari stasiun Secang,” ucap Ucok sembari menunjukan peta rute kereta, peserta bersorak terkagum saat melihat rute kuno tersebut.
Ucok menjelaskan bahwa stasiun Temanggung sendiri dibuka pada tahun 1906 oleh N.I.S een, yang berasal dari Swasta Belanda. Stasiun itu sendiri difokuskan untuk mengekspor komoditas di Temanggung seperti Tembakau serta Kopi yang populer pada masa itu. Kedua komoditas itu bisa diekspor sampai dengan negara India dan juga Pinang.
Ucok juga menjelaskan jika model Kereta api yang ada di Temanggung pada waktu itu ialah buatan Jerman , dan hanya ada di dua negara saja. Yakni Hindia-Belanda dan juga Swiss.
Tidak hanya itu, Ucok juga memberikan foto stasiun di jaman dulu agar dapat membuat peserta kegiatan membayangkan betapa besarnya stasiun Temanggung dimasa lalu, yang pertama terletak di Stasiun Temanggung sebagai bagian samping kanan, dan yang kedua terletak di TK Pertiwi sebagai samping kiri stasiun.
Petualangan kemudian dilanjutkan dengan berjalan-jalan secara bersama, para anggota diajak untuk mencari beberapa rel kereta yang terdapat di beberapa titik. Serta terdapat tiang tinggi peninggalan Stasiun yang kini hidup bersama warga lokal. Konon tiang tinggi tersebut berfungsi sebagai pengingat kerta agar berhenti sejenak saat ada kereta lain yang akan menyeberang.
Selain itu di TK Pertiwi memiliki tiga rel yang melebar. Karena stasiun Temanggung memang memiliki tiga rel kereta api untuk tiap tiap perjalanan. Selain untuk komoditas Tembakau dan Kopi, kereta api di stasiun Temanggung juga bisa menjadi pengangkut penumpang, namun tiap gerbong memiliki batasan penumpang yakni 20 orang.
Kegiatan berlanjut, beberapa sorak senang mengelilingi peserta kegiatan saat menganalisa sekitar. Memang beberapa rel kereta telah ditimpa oleh aspal dan juga perumahan, namun beberapa hal lain seperti irigasi dan jurang buatan ditemukan. Bukti bahwa memang ada stasiun dizaman dahulu.
Sampai akhirnya tiba di titik terakhir, yakni jembatan rel kereta di kali kuas. Tiap pilar dan jembatan rel kereta terpampang megah dan masih dapat dilihat dengan jelas, walaupun termakan waktu. Namun itu merupakan saksi bisu untuk sejarah yang ada di Temanggung.
Dengan hiasan gunung dan juga sawah padi yang menari saat angin kencang menerpa. Merupakan pemandangan yang indah bagi peserta kegiatan yang rehat sejenak, untuk menatap kemegahan buatan orang dahulu, dan nilai sejarah yang fantastis didalamnya.
Kegiatan kemudian diakhiri dengan para peserta yang kembali di Stasiun Temanggung. Ucok menjelaskan isi yang ada didalam stasiun, terdapat tempat untuk menjual tiket dengan peti uang yang masih ada disana, dengan ruangan penyimpanan, dan juga garasi kereta yang kini terkadang menjadi garasi mobil. Terdapat juga peti yang memiliki dua kunci, diperkirakan jika didalamnya memiliki telegram.
Tidak hanya itu, ada juga alat untuk mengubah jalur kereta, benda besar itu memiliki rantai yang ada didalam tanah.
“Ini merupakan teknologi canggih di zaman itu, tidak hanya di daerah Temanggung. Namun juga Magelang,” ucap Ucok sembari memperlihatkan alat besar bergerigi itu.
Trip dan kegiatan ini kemudian berakhir dengan sesi tanya jawab. walaupun tubuh anggota kegiatan merasa lelah akibat petualangan, namun mereka bergembira akibat mendapat pengetahuan lebih dalam mengenai sejarah yang ada di Temanggung.
Saya berharap dengan adanya kegiatan ini, situs bersejarah di Temanggung dapat di tingkatkan dan dirawat, dan juga agar para penerus bangsa tau mengenai sejarah yang ada di tempat tinggal mereka.